Ratu Jeruk Nipis

Primadonna Angela
GPU, Jkt, 2008
Genre: Fiksi, Kumcer, Teenlit
Rating: ****

Shari sangat tergila-gila pada jeruk nipis. Apaaapun yang berhubungan dengannya harus ada jeruk nipisnya. Tentu saja hal itu lama-lama bikin eneg Ray, kekasihnya. Hampir saja Ray memutuskan hubungan mereka.
Namun sebuah peristiwa berhasil merubah Shari.
Kumcer ini juga berisi 11 cerita pendek lainnya.
My Comment: Hmm… jeruk nipis banget deh. Asem-manis-kecut. Begitulah kurang lebih isi ceritanya. Selain Ratu Jeruk Nipis, cerpen lain dalam buku ini yang recommended adalah: Revenge is Best Served Hot, The Unbeatables, Ramalan Renata, dan Anak Baru. Bintang 4 deh.
Kenapa?
Karena mbak Donna menulisnya dengan sabar. Nggak terburu-buru menampakkan suspense/ending. Padahal di sini mantranya cerpen/novel. Sementara di beberapa cerpen lain, mbak Donna agak terkesan buru-buru. Punten yaaa, mbak Donna.
Suspense yang sangat memikat justru ada di Ramalan Renata. Menurut saya, ini nih bintangnya buku ini.

Leave a Comment

Magical Seira 3: Seira & The Destined Farewell

Sitta Karina
Terrant Books, Depok, 2008
Genre: Fiksi, Novel Fantasi, Teenlit
Rating: ****

Untuk menutup gerbang dimensi Madriva, dibutuhkan darah salah satu dari 3 ksatria: Seth, Iolanthe, atau Rey. Menyadari konsekuensi yang begitu berat ini, Seira tak mau membuang waktu.
Namun apa yang harus ia lakukan ketika menemukan Rey, Aishari (Putri dari Madriva yang dijodohkan dengan Seth), dan Ashram si penyihir biang keladi semua kekacauan ini, ternyata adalah orang-orang dekat dalam kehidupannya? Lalu dimana posisi Nandhi (sepupunya), Fathia (teman kuliahnya), dan Sandya Hasanah (ayahnya) di sini?
Dan gerbang dimensi itu harus ditutup, mengingat Ashram sudah sangat melewati batas, serta telah terlanjur terjadi pengkhianatan. Lalu apa yang dilakukan Seira? Siapa yang akhirnya berkorban untuk menutup gerbang dimensi? Bagaimana akhir hubungan Seira dan Abel?
My Comment: Baca novel ini memang harus lengkap dari seri 1 dan 2-nya. Memadukan antara fantasi dan realitas memang sulit. Namun Arie membuktikan kepiawaiannya dalam hal ini. Kelemahan dari novel ini adalah setting kemewahan yang kurang membumi. Terutama saat menggambarkan keluarga Sardjono dan keluarga Hanafiah. Punten ya Arie:). Anyway, novel ini baguuus banget. Perkawinan yang sangat cantik antara fantasi dengan dunia remaja. Nggak semua penulis bisa meramunya dengan sangat pas.

Leave a Comment

Circa

Sitta Karina
GPU, Jakarta, 2008
Genre: Fiksi, Novel, Teenlit
Rating: *****

Almashira mengajukan project magang di Circa sebagai class projectnya. Tentu dilengkapi dengan ambisinya untuk jadi seorang dermatologist kelak, sambil mengkhayalkan bentuk hubungannya dengan Sailendra, partner in crime di sekolahnya, akan menuju pada kedekatan yang lebih.
Genta Ramya Sasmitro menganggap Circa adalah jalan satu-satunya agar ia lulus matakuliah Riset Pemasaran, dan agar ia tak lagi dipandang sebelah mata oleh mantan sahabat yang kini jadi musuhnya, Aldebaran, kakak Alma.
Lalu apa jadinya jika si karakter kuat Alma bertemu si golden boy yang manja, Genta? Bagaimana sebuah peristiwa menyadarkan Genta bahwa hidup tetap harus punya sebuah tekad untuk survive? Lalu bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Alde, Alma, mantannya Anthi, dan Linka (pacarnya kini)? Bagaimana akhir hubungan Alma dan Sai? Apakah benar ia adalah Mr. Right yang diinginkan Alma?
Novel teenlit ini mengupas saling-silang hubungan para remaja ini, disertai dengan masalah mereka untuk mencari jati diri masing-masing.
My comment: Teenlit yang BEDA BANGET. Arie membahasakan sebuah persoalan yang dalam dan penting: identitas karakter diri remaja, ke dalam bahasa dan dunia remaja dengan pas. Cerdas dan bergizi. Ciri khasnya Arie banget deh. A-must-read-teenlit!

Leave a Comment

Anakku Sahabatku

Ifa Avianty

Gema Insani, Depok, 2008

Genre: Nonfiksi, kumpulan esay.

Bersahabat dengan anak bukan hal yang mudah. Kita sering lupa kalau mereka juga bisa sebijak orang dewasa, dan kita dapat mengambil pelajaran dari mereka. Kita juga sering lalai jika komunikasi yang kita sampaikan ternyata nggak nyambung atau bahkan tidak tepat. Perlu kebesaran hati untuk bersahabat dengan si kecil.

Buku saya yang terbaru ini sebenarnya bukan menjabarkan tips dan trik bersahabat dengan anak ala pakar pendidikan. Tapi sharing pengalaman. Bahwa saya menemukan keindahan hikmah dalam persahabatan dengan anak-anak saya.

Nah, jangan lupa cari buku ini ya. Edar mulai Agustus 2008

Leave a Comment

Peluru di Matamu

Afifah Afra Amatullah
Era Intermedia, Solo, 2003
Genre: Fiksi, Novel Sejarah, Roman
Rating: *****

Merupakan bagian terakhir dari Trilogi Bulan Mati di Javasche Oranje dan Syahid Samurai. Sekuel ini berkisah tentang Jack Omar Ali Syah. Seorang pemuda tampan berwatak Don Juan yang kecewa pada Amerika yang telah membesarkannya. Ia kuliah di Swiss dan disana ia menemukan cintanya pada seniornya di Fakultas Kedokteran, Ivana Martin.
Sang Don Juan bertekuk lutut sejadi-jadinya. Apapun ia lakukan asal mendapatkan cinta Ivana. Siapa nyana ini justru membawanya bertemu kembali dengan ayah bundanya, Mahmud Ali Syah dan Khadijah alias Johana Alexandra Rijkaard?
Sayangnya pertemuan ini berbuah luka tak kunjung sembuh. Perbedaan ideologi yang tajam dan kebodohan Jack yang rela dijadikan umpan oleh Ivana yang komunis, mengantarkan sang ayahanda ke tiang gantungan.
Lalu berhasilkah Jack beroleh cinta Ivana? Siapakah Said, seniornya, yang muslim itu? Berlatar belakang hubungan pemerintah RI dengan PKI dan peristiwa DI/TII membuat novel ini sarat dengan kejadian faktual.
My Comment: Masih karya sastra bintang lima dari tangan seorang Afifah. Kali ini setting sejarah yang langka tentang DI/TII yang ia angkat. Masih dengan kepiawaiannya meramu fakta dan fiksi serta menggarap karakter tokoh sehingga tampak kuat dan hidup, Afifah memberi kita banyak info yang wajib kita tahu selaku generasi muda muslim. A must read book!

Leave a Comment

Syahid Samurai

Afifah Afra Amatullah
Era Intermedia, Solo, 2002
Genre: Fiksi, Novel Sejarah, Romance
Rating: *****

Sambungan dari Bulan Mati di Javasche Oranje, berkisah tentang pengembaraan Mahmud dan Khadijah di jalannya masing-masing. Pernikahan Mahmud dengan seorang mujahidah bernama Hanifah dan perjalanan hidayah seorang samurai, Akiro Fujiwara, sebab perantaraan Khadijah. Diselingi intrik dengan PKI dan tentara pendudukan Jepang, novel ini kaya dengan catatan sejarah.
My Comment: Yang sangat saya kagumi dari Afifah adalah kepiawaiannya mengkolaborasi fakta sejarah, konflik batin karakter tokoh-tokohnya, pemahaman wawasan Islam yang mumpuni, dan romantisme dilengkapi dengan ‘tokoh-tokoh dari negeri dongeng’ dengan sangat pas. Tokoh-tokoh Mahmud, Khadijah, Hanifah, dan Akiro serasa penghuni negeri dongeng, begitu nyaris sempurna, namun tetap hidup dan manusiawi. Sungguh sebuah novel padat gizi dan wajib baca!

Leave a Comment

Bulan Mati di Javasche Orange

Afifah Afra Amatullah
Era Intermedia, Solo, 2001
Genre: Fiksi, Novel Sejarah, Romance
Rating: *****

Mahmud Ali Syah adalah seorang bangsawan Turki-Inggris yang terpelajar, tampan, dan sedang mencari tempat untuk kembali menemukan kecenderungannya sebagai seorang muslim. Ia pergi ke Batavia dengan harapan bisa lebih bebas berjuang sebagai muslim. Disana ia bertemu kembali dengan Johana Alexandra Rijkaard, noni Belanda yang tergila-gila padanya. Mereka menikah dan tinggal di Puri Javasche Orange yang merupakan pabrik gula terbesar milik William Rijkaard, ayah Jo.
Disanalah pula Mahmud disadarkan kembali akan kemuslimannya oleh seorang pemuda bernama Hamzah Ikhwani. Mahmud kemudian ikut Hamzah berjuang melawan penjajah.
Bersama novel ini ada banyak konflik berlatar belakang tahun 1930-an yang menarik. Bagaimana hubungan Jo dan Hamzah? Siapa sebenarnya William Rijkaard serta apa hubungannya dengan Lady Margareth, ibunda Mahmud? Bagaimana kisah rumah tangga Mahmud dan Jo? Dan bagaimana peran Hamzah dan Pesantren Al Ikhwah dalam perjuangan?
My Comment: Lagi sebuah karya sastra bintang lima dari Afifah. Berlatar belakang sejarah dengan riset yang cukup detil, novel ini memang penuh gizi. Belum lagi romantisme yang dilukiskan begitu indah antara Mahmud-Jo, dan Hamzah-Rahmah. Juga karakter para tokoh yang begitu kuat: Mahmud, Hamzah, Parman yang komunis, Anggoro yang oportunis, serta Syaikh Abdul Hadi, juga Rahmah sang ukhti mujahidah. Wajib baca nih!
Kelemahannya mungkin terletak pada detil penamaan. Dalam ejaan Belanda, Orange tidak ditulis ‘orange’ (perhatikan pada judul di cover buku) melainkan ‘oranje’. Dalam penyebutan nama dan gelar bangsawan Inggris, gelar selalu diikuti nama kecil dan nama yang mengikuti gelar tsb. Misal : Lady Margareth Sandringham. Atau Lady Sandringham. Jadi bukan Lady Margareth saja. Dan dalam ejaan Turki/Arab yang sudah ditransliterasikan, Syah ditulis sebagai Shah.

Leave a Comment

Menara Langit

Izzatul Jannah
DAR! Mizan, Bdg, 2003.
Genre: Fiksi, Novel Remaja, Sejarah
Rating: *****

Feny terlahir dari keluarga pergerakan. Ayahnya aktivis GMNI dan ibunya aktivis HMI. Sikap keberagamaan di keluarganyapun dibentuk dengan pola pikir gerakan-gerakan tersebut. Kakaknya Giri, seorang yang cerdas namun peragu. Berkali-kali didekati teman-teman mushala, juga teman-teman kiri. Berbeda dengan Feny yang radikal dan Awan, si bungsu, yang menemukan ’sikap’ di jalan.
Pada reformasi 98, ketiganya bertemu dalam kubu yang berbeda. Sama menuntut reformasi dengan sikap dan arah yang berbeda.
My Comment: Novel sejarah yang sangat cerdas. Lagi-lagi koleksi sastra bintang lima. Penggalan fakta dan fiksi diramu dengan sangat cantik oleh mbak Intan, salah satu dosen saya dalam kepenulisan, nama panggilan akrab penulis ini. Tidak semua penulis mampu melakukan hal ini. Karakter-karakter utama (Feny, Giri, Awan, Ulil, Thariq, dan Jippi) begitu hidup dan kuat.
Saya sudah berkali-kali baca novel ini. Dan Feny bagaikan ‘the living legend’ dalam benak saya. Setiap kali membaca novel tentang reformasi 98 saya seringkali membandingkannya dengan tokoh Feny:).

Leave a Comment

De Winst

Afifah Afra
Afra Publishing, Surakarta, 2008
Genre: Fiksi, Novel dewasa, Sejarah
Rating: *****

Rangga Puruhita adalah sarjana pribumi lulusan Leiden. Berwajah tampan, cerdas, keturunan bangsawan, dan santun, Rangga berhasil memikat hati nona Belanda, Everdine Kareen Spinoza. Cinta bersemi diantara keduanya. Belum sempat terwujud, keduanya harus berpisah.
Di tempat kerjanya, Pabrik Gula De Winst, Rangga melihat perbedaan yang menyakitkan antara kesejahteraan pegawai dan staff Belanda dengan pribumi. Di lain pihak, masalah perjodohannya dengan adik sepupunya, Rr. Sekar Prembayun, juga menerbitkan gundah di hatinya.
Tak disangka, hidupnya menjadi makin rumit. Di De Winst, dia bertemu dengan Pratiwi, perempuan pemberani yang memiliki kaitan masa lalu dengan ayahnya, KGPH Suryanegara. Di De Winst pula, dia bertemu lagi dengan Kareen yang kini sudah menjadi Ny. Thijsse. Sementara Meneer Thijsse amat memusuhinya. Persentuhan ideologinya dengan Sekar, dan dua pemuda yang dekat dengannya (Jatmiko dan Kresna) membuka pandangan Rangga tentang perjuangan kemerdekaan.
Bagaimana akhir konflik ini? Siapakah Pratiwi? Bagaimana akhir cinta segi banyak Kareen-Rangga-Sekar-Jatmiko-Kresna-Pratiwi? Novel yang berlatar pergerakan nasional Indonesia tahun 1930-an ini mengurainya dengan sangat manis.
My Comment: Afifah sejak dulu saya kagumi dalam kemampuan merunut konflik dan kesabarannya dalam merangkai fakta sejarah (meriset). Di samping itu, yang sangat menarik, novel ini tidak menguraikan sejarah secara monoton, namun membumbuinya dengan romantisme, pertentangan ideologi, dan permainan bahasa yang membuatnya benar-benar menjadi sebuah novel ‘bergizi dan mencerahkan’. Sebuah predikat karya sastra bintang lima bagi Afifah.

Leave a Comment

The Fairy Tale House

Prisca Primasari
Examedia, Bdg, 2008
Genre: Fiksi, Novel, Romance
Rating: ****

Berkisah tentang keluarga ningrat di kerajaan Wilhelmina, Printemps Tiger Lily dan Fleurette Aster. Mereka memiliki banyak pelayan yang kocak dan kompak. Kedekatan mereka dengan para pelayan itu yang membuat rumah/istana mereka yang dinamai Fairy Tale House selalu ramai dan ceria.
Suatu waktu akan diadakan festival Persahabatan dengan para Pelayan. Disitulah mulai timbul masalah. Ada Nikki Underground, salah satu pelayan yang kabur. Ada Printemps Warner yang tiba-tiba jatuh cinta pada Fleurette Aster karena mirip dengan Linnea Cedar, kekasihnya yang telah meninggal. Lalu semua tirai tersibak perlahan. Benarkah Linnea sudah meninggal? Apa hubungan antara Linnea dengan Nikki? Mengapa Printemps Leaves, adik Printemps Tiger Lily, berubah menjadi mellow dan sensitif?
My Comment: Agak berbeda dari dua novel sebelumnya, kali ini Prisca bertutur dengan tempo agak cepat dan kadang melompat. Bagus teteup:). Romantis teteup:). Tapi punten, menurut saya, konflik dan karakter tokoh-tokoh di luar Tiger Lily dan Aster kurang tergarap. Tampilan kadang lebih komikal namun nggak terlalu dalam. Mungkin kebanyakan tokoh juga kali ya? Setting juga justru kabur. Meski Wilhelmina adalah negara antah berantah, namun melihat karakter tokoh dan settingnya, terletak di sekitar Eropa. Namun ucapan, gaya, dan nyanyian para tokoh malah ‘Indonesia banget’. Ini yang kata saya, jadi kurang asik. Maaf ya Dek?
Kekuatan novel ini, selain romantismenya, juga nilai ceritanya yang sangat egaliter dan ‘family based’. Hangat dan mencerahkan, seperti sinar matahari pagi di musim semi.

Leave a Comment

Spring In Autumn

Prisca Primasari
LPPH, Depok, 2006
Genre: Fiksi, Novel, Romance
Rating: *****

Bersetting New York, kali ini Prisca berkisah tentang Autumn, seorang laki-laki pemilik toko buku yang trauma sejak kehilangan Cometa, putra angkatnya. Sebelum Summer, adiknya, meninggal, Summer berpesan agar Autumn mencari Cometa sampai ketemu.
Hanya ada satu jalan untuk itu. Mencari Cometa di Wina dan Tokyo bersama seorang gadis cantik, Spring Seasons. Dan mereka harus menikah dulu. Autumn yang takut kehilangan lagi, akankah ia bisa menahan lelehan balok esnya saat berdekatan dengan Spring?
My Comment: Masih dengan gaya romantisnya, Prisca mengajak kita memaknai rasa cinta dan kehilangan dengan lembut dan indah. Semua terlihat begitu natural dalam novel ini. Kembali saya terbawa dengan setting dan alur novel romantis yang satu ini.

Comments (1)

(MY NEWEST BOOK): Kumpulan essay MOMMIES CAFE

Siapa bilang ibu-ibu nggak boleh curhat dan bergaul? Justru… wajib tuh. Tapi apa sih yang biasa dicurhatin para ibu muda?

            Nah, buku yang satu ini mencoba membuka apa sih yang biasa dicurhatin ibu-ibu muda kalau lagi ngumpul. Khas ibu-ibu muda metropolis banget. Bicara tentang anak, suami, diri sendiri, lingkungan, hingga Tuhan. Baca buku ini serasa mendengar curhat sahabat deh. Dijamin banyak hikmahnya dan bebas virus gosip. Terbukti!

 

            Pesan dari sekarang, Buku Mommies Cafe karya ke 19 Ifa Avianty dengan gaya bahasanya yang khas… mengalir, lembut, dan feminin. Caranya kirim sms ke Mumtaz Publishing di +628129722932 dengan mengetik MC (jmlh pesanan) (Nama lgkp) (alamat lgkp+kode pos).

LIMITED PUBLISHED!

 

Sneak Peek:

 

TENTANG PENYESALAN

 

            Manusia memang makhluk yang paling diberi banyak kemudahan dan karunia oleh Allah. Tapi sekaligus juga makhluk yang paling sulit untuk bersyukur. Bahkan dalam masalah anak saja, banyak dari kita yang melupakan rasa bersyukur atas karunia terindah itu.

           

            Seorang teman saya, sebut saja namanya Wati, baru menikah sekitar setahun yang lalu. Ia dan suaminya punya program langsung punya anak. Tapi apa daya, Allah belum memberikannya pada mereka. Segala usaha mereka coba. Bahkan sampai program terapi medis pada sebuah rumah sakit terkemuka juga mereka ikuti.

            Hasilnya terlihat beberapa bulan kemudian. Wati teman saya itu positif dinyatakan hamil. Sudah tentu pasangan muda itu menyambut berita tersebut dengan penuh kebahagiaan. Mereka berharap akan dapat menikmati saat-saat penantian datangnya sang buah hati.

            Tapi apa yang terjadi kemudian? Ketika berjumpa dengan saya, dan ini beberapa kali terjadi, Wati mengeluh terus. Ya, seputar mual-mual, ngidamnya yang harus dan wajib dipenuhi sebab kalau tidak ia bisa uring-uringan sepanjang hari, juga soal rasa sebalnya pada sang suami. Saya pikir sih wajar. Saya juga mengalami hal itu kok, meski nggak samapai ngidam, muntah, dan apalagi sebal sama suami. Semua perempuan yang hamil muda pasti ada mengalami hal-hal tesebut.

            Yang cukup membuat saya sedih adalah keluhan Wati berikutnya. Ia merasa berat, merasa tak seksi dan tak menarik lagi di mata suami. Lagipula, baju-bajunya jadi tidak cukup lagi. Ia jadi tak bisa mengikuti mode, ia berjilbab dengan pakaian kesukaannya, kaus ketat dan celana jins yang juga lumayan ketat.Wati bilang, ia belum siap mengganti kostumnya dengan baju hamil yang agak gombrong dan lebar.

            Padahal, di sisi lain, saya yang terbiasa memakai jubah atau rok-blus lebar sama sekali tidak merasa kesulitan ketika hamil. Bahkan ketika perut saya makin membesar sekalipun. Saya malah bersyukur, nggak perlu borong baju hamil lagi! Irit, toh? Disamping itu jilbab lebar yang biasa saya kenakan juga membuat perut dan insya Allah bayi saya merasa nyaman karena terlindungi dari panas.

            Tapi Wati tetap Wati yang menurut saya banyak mengeluh. Ia tetap merasa berat dengan adanya kehidupan baru di dalam rahimnya. Ia merasa kemenarikannya dan kemodisannya, serta tentu saja kesehariannya, hilang terampas oleh si kecil dalam rahimnya.

            Di dasar hati saya yang memang rada sensitif ini, tiba-tiba merenung. Apa rasanya jadi si bayi calon anaknya Wati? Apakah ia juga bisa merasa nyaman tatkala sang ibu terus menerus mengeluhkan dirinya? Apakah sang bayi yang sangat terikat hati dan jiwanya pada sang ibu tidak merasa sangat bersalah telah membuat sang ibu ‘merasa susah’? Bukankah ia tak minta dititipkan di rahim sang ibu? Bukankah sang ibu dan sang ayah yang tadinya begitu berharap akan dirinya?

           

            Saya pernah membaca sebuah cerita karya penulis perempuan dari Italia, Clara Schiavolena, berjudul “Clementina”. Isinya tentang penuturan seorang bayi dalam rahim seorang ibu yang malang. Ibu ini cantik jelita menikah dengan seorang tukang batu yang cukup tampan. Hanya sayang mereka menikah setelah sang bayi ada dalam perut sang ibu. Sementara itu kehidupan mereka yang amat miskin membuat si ibu muda ini sakit-sakitan. Parahnya si ayah kerjanya mabuk-mabukan, berjudi, dan — astaghfirullah— berselingkuh dengan adik kembar si ibu. Perjuangan kala melahirkan yang berat membuat si ibu tak tertolong. Si bayi mungil yang tak berdosa hadir ke dunia tanpa diacuhkan oleh orang-orang sekitarnya.

Hari-hari berlanjut, aku dan ibu sama-sama saling bertahan. Aku mulai menendang perutnya dan dia mengeluh “Mengapa kamu tidak bisa tenang? Kamu harusnya malu pada dirimu sendiri”. Aku ingin berkata betapa aku sangat mencintainya. Tetapi aku tidak dapat bersuara. Pun berkata-kata. Aku menggulung seperti sebuah bola kecil dengan dagu di atas lutut, agar tidak menyusahkannya. Mungkin aku akan bungkuk ketika lahir nanti. Sekarang aku mengetahui keadaan ibu, hampir setiap hari ia demam, pun aku memaafkannya bila ia mengomeliku. [1]

            Dia meneguk pil coklat dan harus mondok di rumah sakit, di sana dipompanya isi perutnya dan menjadikannya sehat dan bersih. Tetapi aku punya penyakit liver. Untuk beberapa saat aku berhenti untuk mencintainya karena ia terlalu sembrono. Selain membahayakan hidupnya, dia juga telah membahayakan diriku. Ibu pergi ke seorang pastor untuk membuat pengakuan. Dia membebaskannya dari keragu-raguan. Mengapa dia tidak menyuruhku untuk membebaskannya juga? Mengapa dia tidak juga berkata,”Maafkan aku, anakku” ?[2]

            Akhirnya aku sadar, jika aku ingin hidup aku harus bertindak cepat. Ibu mungkin akan meninggal sebelum melahirkanku. Aku memilih posisi yang terbaik. Kutarik kepalaku ke bawah, kaki di atas, dan seperti itulah waktu bidan datang.

            Sekarang harus dibawa ke mana? Dia berkata kepada ibu yang sedang merintih di atas tempat tidur dan mencoba memindah alasnya. Dengan geram kusiramkan air ketuban yang baunya menyengat di mukanya. Dia menarik kepalaku…

            …Aku datang ke dunia dengan kedinginan dan kegusaran, sedangkan ibuku hampir setengah mati.

            Bidan yang lainnya mencuciku dalam sebuah baskom. Airnya sangat panas seakan-akan mengulitiku. Dengan kasar mereka membungkusku dengan selimut tebal, masih terasa  dingin walau ini sudah hampir musim semi… Tidak ada harapan bagi ibuku. Paru-parunya telah rusak, ayah memandangiku dengan perasaan benci. Malang benar nasibku.

            Aku tidak akan datang ke dunia tanpa aku dicintai. Teman dan saudaraku merubung tempat tidur ibuku, mereka mengacuhkanku dan membenciku…

            Segera datang dua orang laki-laki, mereka sepertinya petugas kepolisian, mereka bersenjata pentungan. Mereka membawa sebuah kotak besar untuk membawa ibuku. Di depan mataku, dia membawanya, tanpa meminta izinku, atau kupikir mereka tidak menghiraukanku, yang tercekik kain bedong, kedinginan serta kepanasan terkena air. Mereka merampasnya dariku selamanya, sebelum ia memberiku ciuman selamat malam, sebelum aku sempat melihat warna matanya, sebelum ia sempat mengetahui warna kulitku, sebelum dapat berbagi rasa dalam kehidupan di dunia…Semuanya yang aku miliki telah pergi meninggalkanku. Aku tidak dapat berbuat apa-apa selain menangisinya.[3]

            Sungguh, saya menangis setiap kali saya mengulangi membaca cerpen ini. Betapa seorang bayi lucu calon anak kita juga bisa merasakan apa yang kita rasakan. Ia tahu kalau kita amat mencintainya. Demikian pula ia akan merasa bila kita membencinya atau mengeluh atas keberadaannya. Betapa tidak, diinginkan atau tidak, ia adalah belahan jiwa kita, yang separuh darah kita ada padanya. Yang nafas kita ada pada desah nafasnya.

            Lalu bila kita menyesali mengapa ada dia dalam rahim kita, bagaimana jadinya? Masa-masa kehamilan yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan dan rasa syukur bagi ibu, yang juga akan mengalir kepada sang bayi, tentu tak akan terwujud.

            Ada sebuah cerpen lagi yang saya baca tentang seorang janin yang tak diharapkan hadir, akibat pergaulan bebas ibunya. Ayahnya kabur tak mau bertanggung jawab. Segala cara telah dilakukan untuk melenyapkan sang bayi tak berdosa ini. Alhamdulillah, ibu muda tersebut akhirnya mendapat pencerahan setelah bertemu dengan sahabatnya, seorang muslimah yang baik akidahnya. Ibu muda itu menjadi lebih siap menyambut kedatangan sang bayi ke dunia. Cerpen ini ditulis oleh sahabat saya, Muthmainnah dengan judul “Episode Fetus”.

            Tak ada pilihan lain. Rapat kedua memutuskan Fe harus pindah atau kalau tidak mau akan diusir dengan cara apapun. Kenapa Fe disalahkan? Kenapa? Andai Bunda tahu, saat ini, tepat di ulang hari ke-120 Fe tinggal di rumah Bunda, Fe mendapatkan SK untuk tetap eksis di tempat kos, baik di rumah Bunda, atau di belahan bumi manapun.

            Mula-mula Nenek memberikan ramuan-ramuan untuk mengusir Fe. Tahu deh. Pokoknya pahit-pahit, dan Bundapun memakannya, juga untuk mengusir Fe. Kenapa Bunda? Padahal Bunda yang mengizinkan Fe datang ke tempat ini. Dan kini Bunda mengusir Fe. Oh…[4]

 

            Bila memang kita sempat menyesali kesalahan atau ketidaksiapan kita menjadi ibu, itu wajar saja, dan saya rasa itu bagian dari pertobatan. Juga ketika kita sempat merasakan perubahan yang ‘mengganggu’ saat awal kehamilan. Tapi bukankah anak kita tidak punya andil kesalahan apa-apa?

            Maka bukanlah haknya untuk menjadi tumpahan kekesalan, kekecewaan, penyesalan, atau bahkan ia jadi tersia-sia karena beban penyesalan kita. Biarkan ia menyambut hari-hari menjelang kehadirannya di dunia dengan sepenuh bahagia, dengan berlumurkan cinta dari ibu, ayah, dan orang-orang terdekatnya.

 

Selamat datang ke dalam cinta ibu, nak.

Tanda cinta utk calon anakku.

 

Ciputat 2001.

REVISED CINERE 040605


[1] Petikan dari “Clementina” oleh Clara Schiavolena, dalam antologi “Tiga Abad Perempuan” Editor Betzy Dinesen, terj. CTS Univ. Muhammadiyah, PT. Fajar Pustaka Baru, Jogjakarta, 2000. Hal. 8

[2] ibid, hal. 10

[3] ibid. hal 16-18.

[4] Petikan dari “Episode Fetus” oleh Muthmainnah dalam antologi cerpen “Tembang di Padang”, Asy-Syaamiil, Bdg, 2000. Hal. 59.

Leave a Comment

(MY NEWEST BOOK): Kumcer Sebab Cinta Tak Bermata

  (MY NEWEST BOOK): Kumcer Sebab Cinta Tak Bermata Apr 28, ‘08 5:11 AM
for everyone

Berjuta kisah tertulis sejak zaman Adam dan Hawa tentang cinta anak manusia. Cinta yang lebih banyak menggunakan feeling dan bukan mata hati terbukti menguar tragedi.

            Kumpulan cerpen istimewa ini mengajak anda mengarifi cinta. Bahwa cinta memang sering tak bermata, namun jika kita bertanya pada nurani, kita akan menemukannya di sana.

            Sebab Cinta tak Bermata, berisi 15 cerpen istimewa karya Ifa Avianty, dengan ciri khasnya yang lembut, romantis, bertutur mengalir, dan berhikmah.

            Dapatkan segera buku terbitan Mumtaz Publishing ini. Hanya dengan sms ke +628129722932 dengan mengetik SCB (jlmh pesanan) (nama lgkp) (alamat lgkp+kode pos). Anda akan segera menerima konfirmasi pemesanan dan tata cara transfer.

            LIMITED PUBLISHED!!

 

Sneak Peek:

 

Blind Date

 

Malam sudah masuk ke peredaran langit sejak tadi. Huhhh…bete juga, dari tadi belum satu pe-er Fisika Material yang kukerjakan. Cuapekkk… Heran, pak Indra itu nggak ada bosen-bosennya ngasih PR. Mana harus pakai bahasa inggris pula lagi jawabnya. Mikir ngitung dan mencocokkan rumusnya dalam bahasa indonesia saja sudah kayak mau mati, ini lagi pakai bahasa inggris. Susah deh!

            Apa dia pikir semua mahasiswanya sepintar dia kali ya? Huh, siapa sih yang nggak mau sepintar dia? Doktor dalam bidang Material Physics dari Cambridge Uni di Inggris sana. Lulus cum laude dalam usia yang belum lagi tiga dua. Hiyyy… merinding!

            Coba, kamu bangun dulu, Dith. Kamu ngaca gih sana.

            Aku bangkit dengan segan. Kulihat bayanganku di cermin. Rambut kusut masai, jarang ketemu sisir. Maklum, sejak jilbaban aku punya pandangan agak eksentrik, ngapain sisran kan nggak ada yang lihat? Hehehe… nuts! Trus… mmm apalagi ya?

            O ya, badan kurus tinggi, kayak kurang gizi. Maklumlah, namanya juga akhwat aktivis dengan jam terbang tinggi. Yang baru sempat makan diantara kuliah, ngisi kajian, rapat kastrat dan sospol, rapat syuro pembinaan kampus, dan segala nama yang ‘syerem’ itu, atau diantara praktikum yang kadang nyaris membuatku tewas sebab kelamaan berdiri.

            Kugaruk kepalaku yang tidak gatal. Hmmm… bandingkan dengan pak Indra ya?

            IP-ku? Ah, memikirkannya aku mau nangis saja, dan dipastikan bakalan banjir air mata pula. Bayangkan hingga semester jauh gini, semester delapan, bo, IP-ku tidak bergeser dari dua koma dua saja.  Padahal pula, masih banyak mata kuliah yang belum kuambil, sebab aku masih juga mengulang beberapa mata kuliah. Nyerok terus, boro-boro nyodok! Resiko aktivis? Hiii… aku nyengir pahit.

            Usiaku? Hiii… sudah dua dua, dan belum ada tanda-tanda mau wisuda segera. Nikah? Hehehe…  apalagi! Kalau kata anak-anak sekelasku, aku termasuk kategori high quality jomblo. Bangga? Tak tahulah. Aku toh tetap keukeuh dengan keyakinanku bahwa nggak ada pacaran dalam islam. So ngapain malu dengan istilah jomblo? Kalau kata Jazima, sahabatku sesama aktivis kampus, kita ini jojoba, alias jomblo-jomblo bahagia. Ya, bahagia, sebab kita tidak resah dengan kejomblo-an kita. Sebab kita masih bisa wara-wiri kesana kemari sementara banyak akhwat seusia kita yang sudah ‘repot’ dengan bayi dan balitanya. Hehehe… ini apologia atau apa ya?

            Nah, sekarang lihat ‘musuh’ kamu itu, Yudith sayang. Pak Indra itu.

            Performance-nya, rapi jali, wangi, sisiran terus, ketara dari rambutnya yang meskipun cepak tapi licin terus, kalau pakai kemeja juga matching sama celana panjangnya dan… wangi pula. Aih… Yudith, kamu kok intens banget sih merhatiin beliau? Nah… yhaaa…. Ghadhul bashar please, ukhti!

            Ini mah bukan karena nggak ghadhul bashar, bela sudut hatiku yang lain. Lha wong kelihatan kok. Jadi jika disandingkan antara aku dan pak Indra, orang bisa dengan mudah membedakan mana yang terawat dan mana yang tidak.

            Kalau soal makan? Mmm…setahu aku sih, pak Indra itu orang yang nggak neko-neko soal makanan, hanya memang dia selalu makan tepat waktu, maksudnya kalau pas papasan di kantin, sementara aku lagi ‘rapat informal’ atau mengerjakan PR (atau nyalin? J ), dia pasti lagi tekun menghadapi sepiring gado-gadonya. Hehehe… intens kan? Husy!

            Pintar? Ah, ini mah nggak usah dibahas lah. Bikin makin bete. Aktif? Pak Indra itu hingga sekarang masih jadi pembina rohis universitas lho. Dia juga aktivis sebuah partai islam. Selain itu aktif di kepanduan, pencinta alam, dan kayaknya sih rajin olahraga juga, soalnya badannya lumayan atletis.

            Hei, ukhti, stop! Makin menjurus neeh…

            Ntar dulu. Dia itu juga masih jomblo. Kalau kata anak-anak juga (yang cewek terutama), dia itu most wanted man to die for di kampus ini. Deeu segitunya! Kalau kata si Ata, yang bakat banget jadi host acara infotainment, pak Indra itu the highest quality jomblo ever di kampus ini. Hah?!

            By the way, kalau dia masih jomblo, so what gitu lho, Yudith?

            Errr… Aku tersenyum malu. Anyways, kali aja… ntar dia nikahnya sama akhwat siapa gitu…

            Ya, yang jelas nggak mungkin sama kamu lah, Dith. Bainassama’ wassumur bur… alias antara langit dan sumur bor bedanya antara kamu dengan dia. Sudahlah, Yudith, stop dreaming! Back to your horrible homework! Buruan!

 

            Namun, aku mendadak hilang mood. Jomblo. Ya, sebuah kata yang pada hari gini terasa kadang begitu menyayat. Duuuh… istilahnya! Ya, soalnya banyak banget yang bilang gini padaku, terutama temen-temen sekelasku dan temen se SMU-ku yang kebanyakan belum lagi hijrah (maklum, dulunya aku kan anak SMU RP yang mayoritas katolik itu, no wonder juga sih), “Hare gene masih jomblo? Kasiaaan deh luuu, Dith!”

            Biasanya dengan nada yang bittersweet gitu aku menjawab, “Ya so what gitu lho?”

            Ah, ya so what?

            Ya, begini ini jadinya. Nggak bisa jaga pandangan. Coba bandingkan sama Sintha, adik kelasku, anak semester enam, yang sudah married setahun lalu. Dia nikah dengan anak Sipil tiga tahun di atasnya, sudah alumni tentu. Dia terlihat lebih adem, tenang, bahagia, nggak suka ‘diam-diam ‘hunting high and low’ kayak aku… Duh… emang enak jadi jomblo?

            Sayang sekali ternyata jawabannya adalah ‘tidak enak’, sista!

            Terus mau gimana lagi? Kan memang jodohnya belum datang. Masak kamu mau playing God sih, Dith? Kamu ngatur Tuhan gitu, ya Tuhan, tolong dong jodohku datang sekarang, saat ini juga. Desperate banget nih! Ha? Pardon?

            Sudah separah itukah kamu, Yudith sayang?

            P-A-R-A-H, hingga nyaris berdarah?

            Istighfar dong, Dith. Banyak sekali akhwat yang usianya tiga kali lipat kamu juga belum dapat jodohnya. Kenapa kamu jadi segitu resenya sih? Takdir orang kan nggak mungkin tertukar gitu. Ya artinya, ini memang jalannya kamu. So, jalani aja lah…

            Kepalaku berdenyut kencang. Aduhhh…

            Sesekali ingat juga sama ibu di Padang sana. Yang tiap telpon pasti bilang gini, “Dith, kamu dah punya calon belum? Mau ibu kenalkan sama anak temannya etek Risa? Cakep lho, dokter di Padang, lagi ambil spesialis kandungan…”

            Atau, “Ini ada notaris di Pariaman, kawannya Do Usman anak Etek Indar. Mau kau ibu kenalkan?”

            Dan yang terakhir, tiga hari lalu. “Kau ini gimana Dith? Kuliah belum juga kelar. Calon belum ada. Apa saja kerjamu ha? Anak daro indak baik pilih-pilih. Mana pula kau tu indak jelas maunya apa… pusing ibu kaubuat. Dulu lulus SMP kau maunya merantau ke Bogor, ibu izinkan. Indak taunya kau malah makin aneh saja”.

            Brrrr… ingin rasanya aku mengecil menjadi kodok. Agar ibuku tak lagi mengejar-ngejarku tentang kuliah dan jodoh. Agar aku bisa berharap jika ada seseorang yang benar-benar tertarik padaku, aku bisa menjelma menjadi seorang putri. Hahaha… ngayal terus aja, Dith! Kutimpuk cerminku dengan bantal SpongeBob kesayanganku.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Comment

(MY NEWEST BOOK): Novel JEJAK2 KEMBARA CINTA (ONE IN A MILLION)

(MY NEWEST BOOK): Novel JEJAK2 KEMBARA CINTA (ONE IN A MILLION) Apr 21, ‘08 1:48 AM
for everyone

            Siapa bilang memiliki harta berlimpah, ketampanan dan kecantikan, dan kecerdasan berarti pula sudah menggenggam dunia? Bagaimana dengan cinta?

            Mereka yang kita sebut sebagai ‘penghuni negeri dongeng’ menyimpan kegelisahan … dimana letaknya cinta sejati itu. Enam pangeran keluarga Bratalegawa yang ‘memiliki segalanya’ berkelana mencari cinta, mengembara di berbagai kota di dunia. Siapakah half soul mereka? Benarkah bahwa menemukan cinta bagi mereka akan semudah menamatkan pendidikan?

            Temukan jawabannya dalam novel romance berjudul ‘Jejak-Jejak Kembara Cinta’ karya Ifa Avianty. Buktikan bahwa kekayaan bukan berarti bisa memiliki segalanya dengan cepat dan mudah.

            Penulis telah menghasilkan 5 novel dengan ciri khas romantis, mengalir, dan menyentuh. Jangan lewatkan novel ini. Segera pesan ke Mumtaz Publishing hanya dengan sms ke +628129722932 dengan mengetik: JKC (jmlh pesanan) (nama) (alamat lgkp+kode pos).

            Anda akan segera menerima sms konfirmasi pemesanan dan tata cara transfer dari Mumtaz Publishing.

            LIMITED PUBLISHED!

 

Sneak Peek:

 

Jam 4.30 dini hari, jalan tol Jagorawi masih dibasahi gerimis. Licin dan lumayan sepi. Sesekali wiper Odyssey-ku menghalau kabur di kaca depan. Alphard-nya Rahadi masih terlihat di depanku. Dasar aneh. Licin-licin begini malah ngebut.

            Tiba-tiba HP-ku berdering.

            Rumah.

            Ada apa?

            Sejenak batinku gelisah. Sementara rasa sakit di pangkal pahaku tidak juga hilang. Allaaah…

            “Halo”.

            “Bu, ini mbok Jum… Mas Ipan… bu…”.

            “Irfan kenapa, Mbok?”

            Huhuhu… kudengar suara tangis mbok Jum di ujung sana. Jantungku berdetak sepuluh kali lebih keras. Ada apa dengan Irfan?

            “Mbok, Irfan kenapa?”

            “Mas Ipan… mas Ipan… kabur, Bu…”.

            Astaghfirullah…

            “Kabur? Kok bisa? Sudah dicari sekeliling rumah?”

            Tangis mbok Jum malah menggema histeris.

            “Mbok…”

            “Iya, Bu. Maap Bu… kita udah nyari di rumah, sampai gang kampung belakang… gak ada, Bu…”.

            “Kabur dari mana dia?”

            “Dari… jendela kamarnya, Bu… mungkin lewat pintu kucing di pagar samping… Maap ya Bu…”.

            “I…iya, Mbok, saya segera pulang. Terima kasih ya Mbok”.

            Tangis apa lagi ini? Air mataku berpesta bersama hujan…

            Tepat saat itu dari arah berlawanan samar kulihat sebuah truk semen tiba-tiba menghantam pagar pembatas jalan tol, menerjangnya dan berbalik arah…

            Aku memejamkan mata sambil menekan pedal rem kuat-kuat bersamaan dengan terdengarnya suara benturan keras memekakkan telinga. Segala doa yang kuingat segera kurapal.

            Ciiiiit… Ban mobilku berdecit hanya beberapa meter di belakang… Alphard yang dikemudikan Rahadi… yang… hancur…

            Jiwaku terbang…

            Aku menerjang tanpa peduli. Truk sial itu rupanya ringsek juga setelah kembali menabrak pembatas jalan tol. Aku hanya ingin bertemu Rahadi!

            Susah payah aku dan beberapa petugas yang segera datang mengeluarkannya dari mobil yang ringsek. Bagian depan Alphard menabrak pembatas sementara belakangnya melesak ke depan akibat tertabrak truk. Dan Kekasihku bersimbah darah tak sadarkan diri. Ia terjepit stir, dan wajahnya terkena pecahan kaca depan.

            Aku ingin memeluknyaaa… tolong…

            “Bu, minggir, Bu, biar korban kami bawa ke RS segera”. Seorang petugas mendorongku.

            Aku meradang. Kudorong balik dadanya. “Minggir! Kamu yang minggir! Ini suami saya! Biar saya yang bawa!”

            Petugas itu tampak jengkel. “Ibu ini gimana sih? Suaminya sekarat malah heboh!”

            “KAMU YANG DODOL! MINGGIR!”

            Petugas yang lain segera menengahi kami. Huh hampir saja aku cakar muka petugas berkumis sok wibawa itu.

            Malam itu juga Rahadi dibawa ke RS UKI. Sementara aku tak henti-henti menelpon mengurus ini dan itu untuknya dan Irfan… Allah, tolong dampingi aku, kuatkan aku…

            Dengan perih hati kuusap darah suamiku yang mengotori baju dan cardiganku. Rahadi, bertahanlah… demi kita, demi anak-anak kita, demi cinta yang baru saja akan kita tata kembali… Rahadi, I love you…

            Sambil menangis, kubuka kembali sms terakhir dari Rahadi. Hanya 5 menit sebelum tragedi maut itu.

            Ingatkah engkau kepada

            embun pagi bersahaja

            yang menemanimu sebelum cahaya

            Ingatkah engkau kepada

            angin yang berhembus mesra

            yang kan membelaimu cinta…

            (Petikan syair lagu ‘Sebelum Cahaya’ by Letto)

           

            Ya… hanya engkau, Rahadi, hanya engkau embun pagiku… apapun yang telah kaulakukan padaku…

 

Irfan

 

            Cahaya, mengapa jauh sekali engkau? Tahukah engkau bahwa kaki-kaki kecilku capek sekali? Lihat… ujung jempolku sepertinya bengkak.

            Mengapa engkau kelihatannya dekat sekali? Ternyata sampai sekarang aku tidak juga sampai padamu. Aku lapar, haus, dan dingin… Brrr… baju dan rambutku sudah basah semua sekarang…

            Huhuhuhu…

            Bundaaaa…

 

Nana

 

            Capeeek…

            I lost my Princes in one day. Dan hingga kini belum ada kabar lebih pasti tentang keduanya.

            Aku sudah lapor polisi perihal kaburnya Irfan. Melihat kemampuannya mungkin Irfan kabur tidak jauh-jauh dari rumah. Tapi kemana? Mbok Jum, Iroh, pak Adun sudah bergantian menyusuri kompleks kami dan wilayah sekitarnya tapi nihil.

            Huhuhu… pangeran kecilku pasti ketakutan, kelaparan, kehausan, dan kedinginan sekarang. Dimana engkau, Sayang?

            Bagaimana kalau ia diculik? Dianiaya? Dijual? Dijadikan pengemis? Atau… dibunuh? Tidaaak! Jangan sampai, Tuhan… Biarlah aku mempertaruhkan seluruh nyawaku demi anakku…

            Aish yang duduk di sebelahku di bangku tunggu RS sedari tadi juga menangis terus. Ia ingat adik dan ayahnya. Kedua Oma dan Opanya juga mondar-mandir terus dan kadang bertanya sesuatu yang malah bikin aku tambah stress.

            Sementara suamiku baru selesai dijahit wajahnya setelah dokter berhasil mengeluarkan beling-beling. Ia masih kritis. Tulang dadanya ada beberapa yang patah, demikian pula kakinya. Yang gawat, mata kirinya harus dioperasi karena kena pecahan beling pulang. Hingga kini team dokter masih menunggu masa kritisnya sampai ia cukup siap menjalani operasi bedah mata.

            “Nyonya Rahadi”.

            Gegas aku berdiri menghampiri Dokter Bahri, ketua team dokter yang menangani suamiku.

            Kedua pasang orangtua kami juga ikut mendengarkan dengan seksama.

            “Ya, Dok. Bagaimana suami saya?”

            “Sudah bisa ditengok. Hanya belum pulih betul. Masih belum sadar betul. Sebentar lagi sisa biusnya selesai bekerja. Tolong dijaga, jika beliau siuman, jangan sampai stress. Khawatir berpengaruh terhadap kondisi pra-operasi”.

            Dokter senior itu mengangguk menenangkanku yang tidak sabar ingin buru-buru menemui suamiku.

            “Dok… emmm… kalau kemungkinan operasinya gimana ya?”. Takut-takut aku bertanya.

            Dokter Bahri menarik nafas. “Jika gagal, dikhawatirkan ia tidak bisa lagi memfungsikan mata kirinya. Tapi kita sama-sama berusaha dan berdoa untuk yang terbaik ya, Bu…”

            “Iya, Dok, Terima kasih…”

            Dengan tangannya Dokter Bahri mempersilakan kami masuk perlahan-lahan

 

Comments (1)

Will & Juliette

Prisca Primasari

LPPH, Depok, 2008

Genre: Fiksi, Novel, Romance

Rating: *****

 

            Will Amethyst Rivendell, mantan vokalis band classic rock Frightening Beauty, memandang perempuan tidak lebih dari sekedar makanan lezat yang hanya untuk sesaat. Namun ia kembali teringat akan taruhan yang ia dan teman-temannya, sesama rock star, ciptakan saat acara Meet the Rock Legends.

            Acara sudah semakin dekat, dan Will merasa akan ‘tamat riwayatnya’. Ia akan termakan taruhan permainan itu. Hingga ia bertemu gadis cantik penderita rabun senja, Juliette Elvish. Juliette membuka matanya tentang keindahan dan kelembutan cinta, sekaligus tentang cinta sejati.

            Lalu mampukah Will menjelaskan pada Jules, si novelis itu, bagaimana sebenarnya perasaan dan niatnya? Apakah Will dan Jules akan tetap bersama?

            My Comment: Sejak karya novel pertamanya, (ini novel ketiga) saya sudah kagum dengan Prisca. Gaya berceritanya yang membawa kita ke kota-kota paling romantis di dunia (kali ini settingnya di New York), dan scene demi scenenya membuat kita seperti nonton film-film romantis sejenis Sleepless in Seattle, When Harry Met Sally, While You were Sleeping dan Serendipity. Ditambah lagi dengan detail tentang New York yang rinci membuat kita seperti beneran ada di sana. Salut untuk Prisca.

Leave a Comment

Older Posts »